Tayangan Reality Show di Televisi ; Ketika Citra Menjadi Realitas
Posted by efripdg pada Januari 14, 2009
Pengantar
Suatu ketika saat penulis bermukim di Yogyakarta, seorang teman dari Jakarta berkunjung untuk liburan beberapa hari memanfaatkan long weekend. Karena waktu yang tersedia tidak banyak, kami pun membuat jadwal perjalanan seketat mungkin. Hari itu adalah perjalanan ke Solo dengan naik kereta api dan kemudian sepanjang sore hingga malam, perjalanan akan dilanjutkan menyusuri ikon Yogyakarta, yakni Malioboro. Akan tetapi rencana yang sudah matang itu ternyata tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena pada saat dalam perjalanan kembali ke Yogya, tiba-tiba saja teman itu ingat bahwa saat itu malam minggu, saatnya konser AFI (Akademi Fantasi Indosiar). Ia tidak ingin melewatkan acara tersebut karena harus mengetahui siapa yang tereliminasi malam itu… Dengan demikian maka perjalanan menyusuri Malioboro pun dibatalkan.
Ilustrasi di atas hanyalah sebuah gambaran betapa televisi mampu mengatur hidup seseorang. Orang rela meninggalkan pekerjaan tertentu dan menggantinya dengan menonton televisi, atau melakukan penyesuaian-penyesuaian jadwal kegiatan dengan jadwal acara televisi. Amir Piliang (1997 : 202) bahkan mengatakan televisi merupakan sebuah kontrol sosial yang ampuh. Kehadirannya lebih efisien dari seorang intel pemerintah dalam mengawasi dan mengontrol kehidupan pribadi setiap orang. Televisi memiliki suatu “kekuasaan” untuk memastikan, bahwa orang-orang dapat diatur jadwal aktifitasnya (bila ingin menonton sepak bola dini hari, maka tidurlah siang hari).
Salah satu program acara televisi yang mampu menyedot perhatian masyarakat penikmat televisi adalah tayangan reality show. Disebut dengan istilah reality show, karena dianggap mampu menghadirkan realitas asli dari kehidupan manusia, sekaligus menghibur melalui realitas imitatif yang dipertontonkan (Teuku Kemal Fasya, Kompas 24 Oktober 2004). Selanjutnya menurut Kemal Fasya, secara umum reality show di Indonesia berkembang dalam dua model. Pertama, berkaitan dengan mengolah prestasi yang berupa kontes menyanyi atau keahlian lainnya. Kedua, tayangan yang mengeksploitasi sisi psikologis peserta atau targetnya dengan maksud menstimulasi rasa marah, takut, sedih, jengkel atau senang. Tayangan model ini antara lain seperti : Ngacir dan Uang Kaget (RCTI), Dunia Lain (Trans TV), Percaya nggak Percaya (ANTV) dan masih banyak lagi. Tulisan ini akan membahas reality show model pertama, yakni reality show yang berkaitan dengan mengolah prestasi berupa kontes menyanyi, dengan fokus perhatian pada AFI (Akademi Fantasi Indosiar) yang pernah booming beberapa waktu yang lalu dan Indonesian Idol.
Televisi ; sang Pencuri Perhatian
Dibandingkan dengan media massa yang lain, televisi merupakan media yang paling banyak mendapat perhatian setiap orang. Kepemilikan benda itu bisa diambil sebagai salah satu indikatornya. Hampir setiap keluarga memiliki pesawat televisi, bahkan ada rumahtangga yang memiliki lebih dari satu televisi untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga terhadap acara-acara yang berbeda pada saat yang bersamaan. Tidak demikian halnya dengan surat kabar, majalah ataupun radio yang hanya diakses oleh kalangan tertentu saja[1].
Televisi lebih diminati karena mempunyai beberapa kelebihan dibanding media yang lain. Kelebihan yang utama adalah kemampuannya menggabungkan fungsi audio dan visual sehingga dua indera (mata dan telinga) difungsikan sekaligus. Tidak seperti surat kabar/majalah ataupun radio, yang hanya memfungsikan satu indera saja. Selain itu televisi juga kaya warna dan dapat memperpendek jarak dan waktu. Namun keunggulannya yang paling penting adalah dalam hal menampilkan tayangan gambar yang bergerak (motion picture) sehingga khalayak pemirsa lebih terlibat secara emosional dibandingkan ketika mereka melihat gambar mati seperti terpampang di koran atau majalah (Idi Subandy Ibrahim, 1997).
Tentunya di samping kelebihan yang dimiliki, televisi juga memiliki kelemahan jika dibanding dengan media cetak. Karena media cetak bergerak dalam perhitungan ruang, sedangkan televisi lebih banyak bergerak dalam perhitungan waktu, maka untuk menikmati media cetak, pembaca mempunyai otoritas. Ia dengan mudah dapat memilih apa yang ingin dibacanya terlebih dahulu atau menunda untuk dibaca beberapa hari kemudian. Sebaliknya bagi penonton televisi, ia tidak memiliki otoritas terhadap acara-acara yang ingin ditonton. Ia harus menunggu penayangan acara yang menarik baginya atau terpaksa harus melihat acara yang tidak ia sukai (atau meninggalkan televisi dan kembali pada saat acara yang ia sukai). Artinya, dalam hal ini televisi yang memegang kendali dan manusia lah yang harus menyesuaikan jadwal dengan program-program yang ditayangkan.
Begitupun dalam hal berkaitan dengan editing, pada media cetak pembaca langsung menjadi editor. Ia bisa menentukan kolom mana yang akan dibaca dan mana yang diabaikan atau kolom yang lebih dahulu atau kemudian untuk dibaca. Akan halnya pemirsa televisi, ia hanya bisa pasrah menikmati gambar yang sudah diedit oleh editor televisi. Tentunya gambar-gambar yang tersaji adalah gambar yang menarik menurut ‘selera’ si editor. Persepsi yang salah dari pemirsa bisa saja timbul karena mereka tidak memperoleh gambaran dari realitas yang sebenarnya. Yang ditonton oleh pemirsa adalah ‘kejadian’ versi si editor, bukan kejadian di lapangan. Sebagai contoh, tayangan aparat kepolisian yang menyerang para pengunjuk rasa menimbulkan persepsi yang salah dari pemirsa karena gambar sebelumnya yang menggambarkan bagaimana perlakuan pengunjuk rasa terhadap aparat kepolisian telah diedit oleh si editor.
Kelemahan lain yang terdapat pada televisi adalah pemirsa tidak bisa mengulang berita atau tayangan yang diinginkannya. Jika sebuah berita atau program selesai ditayangkan, pemirsa tidak bisa menikmati kembali kecuali stasiun televisi itu sendiri yang menayang-ulang program itu atau pemirsa menggunakan teknologi lain dengan merekam program tersebut, misalnya. Hal ini tidak ditemui pada media cetak karena apa yang sudah dibaca bisa dibaca lagi suatu saat nanti.
Meskipun berbagai kelemahan dimiliki televisi, namun media yang sering disebut sebagai kotak ajaib ini tetap menjadi media favorit sebagai sumber informasi dan hiburan. Bahkan orang lebih mempercayai televisi dari pada media lain. Menurut James Lull (1998) mayoritas rakyat di negara-negara maju, mengatakan mereka lebih mempercayai televisi ketimbang sumber informasi lain. Bahkan sekarang, televisi mungkin sudah menjadi The First God (Tuhan Pertama) pada masyarakat industri (Jalaluddin Rakhmat, 1997).
AFI dan Indonesian Idol ; Sebuah Reality Show
Tidak dapat dipungkiri program acara televisi AFI[2] (Akademi Fantasi Indosiar) dan Indonesian Idol[3] telah menyita perhatian sebagian besar masyarakat Indonesia. Menurut Dalu (2005 : 64) ada 15 juta pemirsa fanatik AFI. Demi tayangan itu orang rela meninggalkan pekerjaan atau mengatur jadwal setepat mungkin untuk bisa menyaksikan tayangan tersebut. Terutama untuk menyaksikan agenda rutin setiap minggu yang disebut dengan Konser (pada AFI) atau Babak Spektakuler (pada Indonesian Idol) [4]. Begitu populernya tayangan ini, sehingga tidak heran jika kosa kata ‘eliminasi’, ‘akademia’, ‘idol’ dan sebagainya menjadi akrab di telinga masyarakat penonton televisi di Indonesia karena sering digunakan dalam pembicaraan sehari-hari. Orang-orang pun, merasa sangat mengenal Veri, Tia (pemenang AFI 1 dan 2), Joy dan Delon (pemenang Indonesian Idol pertama), lengkap sampai pada hal-hal kecil[5] melebihi pengetahuan mereka tentang tetangganya sendiri.
Apa sesungguhnya yang menarik dari tayangan itu ? Sebagai sebuah ajang untuk unjuk kebolehan di bidang tarik suara, tentunya tidak beda dengan festival-festival menyanyi yang lain. Dari dulu sudah sangat banyak diadakan lomba-lomba sejenis seperti Pop Singer, Bintang Radio-TV, Bahana Suara Pelajar dan Asia Bagus. Yang membedakan AFI dan Indonesian Idol dengan lomba menyanyi pada masa lalu hanyalah cara mengemas kegiatan yang dibuat lebih menarik, lebih glamour dan lebih modern (dalam hal teknologi). Program itu didukung oleh stasiun televisi yang terus menerus menyebarluaskan informasi setiap waktu bahkan ada tayangan khusus setiap hari tentang aktifitas mereka sehingga benar-benar menjadikan pemirsa merasa ‘dekat’ dengan acara itu. Selain itu kepada para peserta yang lolos seleksi (12 besar pada AFI dan 10 besar pada Indonesian Idol) diberikan pendidikan teknik bernyanyi dan hal-hal yang menunjang untuk membentuk mereka menjadi seorang bintang. Yang paling membedakan AFI dan Indonesian Idol dengan lomba-lomba menyanyi sebelumnya adalah keikutsertaan penonton sebagai ‘juri’ karena suara mereka (yang diberikan melalui SMS dan premium call) ikut menentukan nasib para peserta apakah akan terus melaju ke babak berikutnya atau harus mundur dari arena kompetisi.
AFI dan Indonesian Idol tidak hanya sekedar ajang kompetisi menyanyi tetapi juga sebuah tontonan. Oleh karenanya banyak pihak yang terlibat dalam program itu (dalam penyelenggaraan dan dalam menentukan keberhasilan program). Bagi masing-masing pihak, program itu dipandang dari sudut yang berbeda. Bagi para peserta (kompetitor), AFI dan Indonesian Idol merupakan wadah untuk berekspresi, untuk menunjukkan bakat dan kemampuan di bidang menyanyi. Tentu saja itu merupakan konsep ideal karena bagi sebagian kompetitor ajang ini mungkin dimaknai sebagai wadah untuk punya lebih banyak teman, jalan untuk menjadi terkenal dan ujung-ujungnya punya banyak uang (kaya).
Bagi para sponsor, AFI dan Indonesian Idol merupakan wadah untuk berpromosi. Para pelaku bisnis melihat peluang yang sangat besar dari program ini. Oleh karenanya ada yang berani menjadi sponsor utama yang memberi hadiah (mobil) bagi pemenang grand final. Promosi ini ada yang digelar secara ‘kasat mata’ dengan memotong tayangan pada saat siaran langsung konser (AFI) ataupun babak spektakuler (Indonesian Idol), namun ada pula yang disusupkan secara ‘halus’ pada tayangan harian (Diari AFI atau Indonesian Idol Extra). Pada tayangan harian itu parade produk dikemas sedemikian rupa sehingga kehadirannya terasa ‘natural’ dalam keseharian para kompetitor. Seperti dalam suatu tayangan Diari AFI yang sempat saya lihat, di situ digambarkan aktifitas para peserta mulai dari bangun tidur sampai kemudian tidur kembali. Seiring penggambaran aktifitas keseharian itu lah, parade produk para sponsor disusupkan. Jadi setelah bangun pagi, para akademia (sebutan untuk para kompetitor AFI) melakukan senam untuk menjaga kesegaran tubuhnya. Selesai senam mereka beristirahat sambil minum produk tertentu dan makan permen tertentu (dari sponsor). Kegiatan mereka kemudian dilanjutkan dengan aktifitas sehari-hari seperti mandi (dengan memakai sabun mandi dan shampo tertentu – tentu saja dari sponsor). Berikutnya mereka sarapan dengan mie instant (sponsor lagi). Di sela-sela latihan, untuk menjaga kesegaran tubuh mereka memakai cologne (dari sponsor). Begitupun kala istirahat di sore hari, mereka ngemil biskuit atau makanan ringan (kembali sponsor). Demikian tayangan realitas keseharian dari para akademia, bercampur baur antara yang “real”[6] dengan pesan-pesan terselubung dari sponsor.
Bagi service provider, ajang ini merupakan wadah untuk meraup keuntungan. Dengan melibatkan pemirsa sebagai penilai, para service provider tinggal menghitung keuntungan yang diperoleh dari banyaknya SMS dan premium call yang diberikan untuk mendukung kompetitor. Kalau pada tarif normal SMS hanya Rp. 350,- per sekali kirim maka untuk ajang ini tarif SMS adalah Rp. 2000,- per sekali kirim. Begitupun dengan premium call yang memberlakukan tarif Rp. 3500,- per menit.
Bagi pemirsa, ajang ini hanya untuk hiburan, untuk memperoleh kesenangan batin. Mereka merasa terhibur dan senang menyaksikan para kompetitor dengan suara bagus, pakaian indah dan gemerlapnya panggung. Adakalanya ia ikut terhanyut dalam kesedihan jika idolanya tereliminasi atau tidak bisa melanjutkan ke babak berikutnya. Begitupun, kelompok ini memperoleh kesenangan dan terpenuhi rasa keingintahuan-nya tentang seluk beluk para kompetitor atau kompetitor yang dipuja, dari tayangan Diari AFI atau Indonesian Idol Extra.
Bagi pihak penyelenggara, ajang ini merupakan wadah untuk melahirkan bintang-bintang baru hanya dalam hitungan bulan, yang dalam istilah Dalu (2005) disebutnya Bintang Kaget ! Veri, sebelum memenangkan AFI 1 bukanlah siapa-siapa. Namun dalam jangka waktu kurang lebih tiga bulan, ia kemudian menjelma menjadi sosok yang dipuja dan dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal inilah yang disebut Amir Piliang (2004 : 61) sebagai perangkap gaya hidup yang serba cepat dan instant. Hidup terperangkap dalam keseketikaan (instantaneous) atau temporalitas (temporality) segala sesuatu, yang hadir seketika dalam waktu singkat untuk kemudian lenyap secara cepat dan diganti oleh yang lainnya, tanpa akhir. Perubahan dan pergolakan terjadi terus menerus yang ditandai oleh jeda yang singkat. Oleh karenanya Veri hanya sesaat menikmati popularitas itu karena dalam waktu singkat perhatian masyarakat (yang memuja Veri) kemudian beralih pula kepada Tia, sang juara AFI 2.
Terlepas dari berbagai pihak yang terlibat (atau melibatkan diri – seperti pemirsa) pada kedua program itu, pada kenyataannya AFI dan Indonesian Idol sebagai tontonan kemudian memiliki dunianya sendiri. Peserta yang lolos seleksi dan masuk ‘karantina’ harus melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan ‘iklim’ di sana. Baik itu tata cara bergaul, bersikap, dan berprilaku serta berpakaian. Bagi mereka yang belum terbiasa dengan ‘bahasa tubuh’ pergaulan metropolitan seperti ‘sun’ pipi kiri dan kanan sebagai ungkapan persahabatan atau berpelukan sebagai ungkapan perpisahan (hal ini sangat diekspos pada saat seorang akademia tereliminasi) tentu merasa agak kagok. Tetapi lama kelamaan dengan proses ‘pembelajaran’ di karantina, maka mereka pun menjadi terbiasa dan tidak merasa canggung lagi. Begitu juga dengan mereka yang semula merasa risih jika harus mengenakan pakaian yang ‘serba terbuka’ tetapi kemudian merasa enjoy dengan pakaian seperti itu karena orang-orang di luar dirinya terutama sang perancang bisa meyakinkan dirinya bahwa ia pantas dengan pakaian tersebut. Itulah reality show, realitas sebuah tontonan.
Ketika Citra Menjadi Realitas
Dari lima elemen yang menunjang terlaksana dan berhasilnya program AFI dan Indonesian Idol, pemirsa merupakan kelompok yang paling ‘malang’ walaupun sesungguhnya peran mereka cukup penting. Tanpa adanya pemirsa yang dengan setia menyaksikan, tentu program tersebut tidak bisa dikatakan berhasil. Berbeda dengan kelompok yang malang ini, elemen-elemen lain memperoleh keuntungan (finansial) dari partisipasinya dalam program itu. Sebagai gambaran, para kompetitor memperoleh ketenaran, pengetahuan dan keuntungan finansial terutama bagi yang berhasil menjuarai grand final atau sampai babak tiga besar. Begitu pun halnya dengan para sponsor yang jelas memperoleh keuntungan dari program ini. Apalagi bagi service provider, keuntungan yang diraup lebih besar lagi. Bagi penyelenggara, disamping keuntungan finansial yang diperoleh dari para pemasang iklan, juga keuntungan bisa melahirkan bintang–bintang baru yang pada gilirannya bisa ‘dijual’ lagi karena adanya keterikatan kontrak antara para kompetitor dengan penyelenggara untuk jangka waktu yang sudah disepakati.
Sementara pemirsa, keuntungan apa yang ia peroleh ? Tidak lain hanyalah kesenangan sesaat, namun dengan kerugian yang jauh lebih besar atas pengeluaran untuk mengirim SMS atau premium call, membeli tabloid, poster dan pernak pernik AFI atau Indonesian Idol. Memang ada di antara pemirsa yang beruntung memperoleh hadiah dari kuis SMS, tetapi itu hanya sangat sedikit dari jumlah yang mengirim. Kalau pada kenyataannya keterlibatan pemirsa hanya mendatangkan kesenangan yang sedikit namun menimbulkan kerugian yang besar, lalu mengapa pemirsa yang mengikuti acara itu tetap banyak ? Hal ini saya coba menjelaskannya dengan mengacu pada konsep meme.
Meme, menurut Richard Dawkins adalah semacam pesan kultural (cultural instruction) yang berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat contoh-contoh dan imitasi, yang berbeda dengan keberlanjutan gen pada manusia lewat pertemuan sperma dan ovum (Amir Piliang, 2004 : 73). Meme pada awalnya dibentuk oleh pikiran manusia, tetapi kemudian ia segera berbalik dan mulai membentuk pikiran itu sendiri. Analogi yang digunakan Amir Piliang dengan listrik, tepat sekali untuk menggambarkan hal ini. Pada mulanya manusia menemukan listrik untuk memudahkan kehidupannya, tetapi kemudian listrik mulai membentuk pikiran manusia hingga segala sesuatu mau dilistrikkan, sehingga mendorong ratusan peralatan listrik baru, yang sebelumnya tidak ada dalam pikiran orang seperti pencukur listrik, pembersih kaca listrik, kursi listrik, pagar listrik (Amir Piliang, 2004 : 74). Bagaimana meme berkembang dan kemudian “menjajah” pikiran manusia, kiranya tepat sekali perumpamaan yang dipakai Amir Piliang (2004 : 75) dengan gaya hidup bermobil. Ketika pertama kali seseorang membeli mobil, maka ia memperoleh manfaat dan kesenangan dalam menggunakan mobil itu untuk bepergian, belanja, pesiar dan sebagainya. Namun sekali pikiran orang itu sudah dihantui oleh oleh gaya hidup bermobil maka meme segera mengendalikan pikiran orang itu. Pikirannya dipenuhi oleh kebutuhan untuk selalu mengganti mobil dengan gaya-gaya baru, model baru, keluaran baru. Singkat kata, meme gaya hidup bermobil ini akan meyita banyak sekali energi, waktu, pikiran dan uang orang yang dipengaruhinya, karena ia pun mulai memikirkan bagaimana jika mobilnya tergores, dibongkar, dicuri, disenggol serta keharusan membayar pajak, bensin dan asuransi. Jadi, ketimbang mengendalikan mobil sebagai meme (ide), orang itu justru dikendalikan oleh pembiakan ide dan gaya yang datang dan pergi silih berganti oleh gaya hidup bermobil.
Jika penggambaran Amir Piliang tentang gaya hidup bermobil itu dibawa ke AFI dan Indonesian Idol, maka hal itu tidak jauh beda. Pertama kali orang menyaksikan tayangan tersebut, hasratnya untuk menikmati program yang menarik dan menghibur menjadi terpenuhi. Tetapi ketika orang itu sudah menjadikan AFI dan Indonesian Idol sebagai gaya hidup, maka meme telah mengendalikan pikiran mereka dan kemudian juga menimbulkan ketergantungan sehingga selalu penasaran untuk mengetahui pada minggu ini siapa yang tereliminasi (AFI) atau siapa yang tidak maju ke babak berikutnya (Indonesian Idol). Tidak sampai di situ saja, informasi yang lebih dan lebih lagi tentang AFI dan Indonesian Idol khususnya kompetitor yang disenangi, terus diburu antara lain dengan membeli tabloid yang mengulas tentang latar belakang kehidupan keluarga Veri misalnya, atau aktifitas dan teman dekat Joy, misalnya. Pendek kata, semua informasi tentang sang idola terus diburu tanpa pernah merasa cukup karena selalu berharap ada informasi baru.
Adanya rasa ketergantungan yang tinggi terhadap tayangan itu disebabkan karena citra yang dibentuk oleh media kini telah menjadi realitas. Dalam kondisi begini meme telah menjadi parasit dalam pikiran seseorang. Ini disebabkan karena dalam upayanya untuk berkembang biak dan bertahan hidup, meme menggunakan pikiran manusia sebagai tempat hidupnya. Dalam bahasa T. Simbolon (1998), meme berkembang untuk mewujudkan tri-suksesnya sendiri, tanpa menghiraukan kepentingan manusia yang benaknya dimanfaatkan. Tiga sukses dari meme menyangkut hal-hal : 1) usia yang sepanjang-panjang, 2) tersebar seluas-luasnya dan berketurunan seasli-aslinya (T. Simbolon, 1998 : xvi).
Penutup
Manusia memerlukan benda-benda materi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu maka diproduksilah benda-benda yang dibutuhkan tersebut. Ketika benda-benda diproduksi dalam jumlah besar, yang terjadi kemudian adalah surplus. Untuk mengatasi hal tersebut, supaya benda-benda yang surplus itu habis, maka diciptakanlah atau ditumbuhkan keyakinan dalam diri manusia bahwa mereka membutuhkan benda-benda itu. Yang beperan dalam menumbuhkan keyakinan ini adalah media massa. Melalui propaganda dan citra yang diciptakannya, manusia yang semula tidak merasa membutuhkan suatu benda materi tertentu kemudian merasa harus memiliki benda materi tersebut. Hal yang sama terjadi pada informasi. Semula informasi dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun kemudian yang terjadi, informasi dibuat melampaui kebutuhan manusia, bahkan informasi kini menaklukkan manusia yang menciptakannya.
Acara-acara di televisi juga tidak lagi dibuat berdasarkan kebutuhan manusia. Televisi telah memiliki dunianya sendiri. Televisi akan terus berproduksi dari satu acara ke acara lain, dari satu berita ke berita lain, dari satu sinetron ke sinetron lain dan dari satu kompetisi ke kompetisi lain. Oleh karenanya kita harus bisa mengatur televisi, dalam arti kita menjadi pemirsa yang aktif, yang bisa menentukan informasi atau program apa yang benar-benar dibutuhkan. Ini perlu menjadi perhatian karena jika tidak demikian maka televisi lah yang akan mengatur kita.
BAHAN RUJUKAN
Amir Piliang, Yasraf.
1997 “Realitas-realitas Semu Masyarakat Konsumer : Estetika Hiperealitas dan Politik Konsumerisme” dalam Ecstasy Gaya Hidup, Idi Subandy Ibrahim (ed). Bandung : Mizan.
————————
2004 Dunia yang Dilipat : Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Yogyakarta: Jalasutra
Armada, Wina.
1993 Menggugat Kebebasan Pers. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Budiman, Hikmat.
2002 Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius.
Cangara, Hafied.
1998 PengatarIlmu Komunikasi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Ibrahim, Idi Subandy.
1997 “ Krisis Kultural di ‘Abad Televisi’ ” dalam Hegemoni Budaya, Idi Subandy Ibrahim (ed). Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya.
Lull, James.
1998 Media, Komunikasi, Kebudayaan : Suatu Pendekatan Global (terjemahan A. Setiawan Abadi). Jakarta : Yayasan Obor
Rakhmat, Jalaluddin.
1997 “ TV Sudah Menjadi ‘The First God’ ” dalam Hegemoni Budaya, Idi Subandy Ibrahim (ed). Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya.
Dalu, Lintang Sinunggal.
2005 Bintang Kaget! : Ajang Ngetop dalam Besutan Kapitalisme Reality Show Televisi. Yogyakarta : Diva Press.
T. Simbolon, Parakitri.
1998 Pengantar buku Media, Komunikasi, Kebudayaan : Suatu Pendekatan Global (terjemahan A. Setiawan Abadi). Jakarta : Yayasan Obor
[1] Menurut perkiraan (data tahun 2004), di negeri ini ada lebih dari 30 juta pesawat televisi, yang rata-rata untuk setiap pesawat televisi ditonton oleh lima orang. Berarti ada sekitar 150 juta penduduk Indonesia, atau sekitar 70 persen dari total penduduk, yang menonton (dan mendapat informasi) dari televisi. Sedangkan, mereka yang memperoleh informasi dari media cetak, diduga hanya sekitar 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
[2] Ditayangkan stasiun televisi Indosiar pada rentang waktu 2003 sampai 2005
[3] Disiarkan RCTI sejak 2004 hingga sekarang (2007)
[4] Konser AFI diikuti oleh 12 orang peserta, sedangkan Babak Spektakuler diikuti 10 orang. Mereka adalah hasil seleksi dari seluruh Indonesia. Baik Konser maupun Babak Spektakuler menggunakan sistem gugur sehingga setiap minggu ada satu peserta yang tidak bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.
[5] Seperti tanggal dan tahun kelahiran, tingkat pendidikan, hobby, pekerjaan orangtua bahkan sudah punya pacar atau belum.
[6] Konsep “real” dalam hal ini mungkin perlu definisi lagi karena ketika seseorang mengetahui gerak-geriknya di shoot kamera, masihkah itu merupakan realitas yang sesungguhnya ?