Efripdg’s Weblog

Rang Padang

  • Agustus 2016
    S S R K J S M
    « Jan    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

foto bersama ante dan doni

Posted by efripdg pada Januari 16, 2009

foto bersama adik

foto bersama adik

Posted in foto | Leave a Comment »

foto bersama Amak, Ibuk dan Ante

Posted by efripdg pada Januari 16, 2009

foto kenangan pernikahan di Sintuk

foto kenangan pernikahan di Sintuk

Posted in foto | Leave a Comment »

tentang perkawinan

Posted by efripdg pada Januari 14, 2009

PERKAWINAN DALAM MASYARAKAT MINANGKABAU
“Masa lalu, Masa Kini dan Masa Depan”
Efrianto

Perkawinan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Melalu perkawinan proses daur ulang manusia dilakukan, dalam kehidupan masyarakat yang semakin maju perkawinan diatur dalam sebuah undang-undang yang menjelaskan, bahwa Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebuah Perkawinan dipandang sah, apabila dilakukan menurut hukum agamanya dan kepercayaannya masing-masing, Perkawinan dan mesti dicatat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.(UU Perkawinan Pasal I dan 2 )

Pada umumnya perkawinan mempunyai aneka fungsi seperti :
1. Sebagai sarana legalisasi hubungan seksual antara pria dengan wanita dipandang dari sudut adat dan agama serta undang-undang negara.
2. Penentuan hak dan kewajiban serta perlindungan atas suami istri dan anak-anak.
3. Memenuhi kebutuhan manusia akan teman hidup status sosial dan terutama untuk memperoleh ketentraman batin.
4. Memelihara kelangsungan hidup “kekerabatan” dan menghindari kepunahan.

Indonesia yang didiami oleh berbagai etnik dan suku bangsa. Masing-masing etnik memiliki tata cara dan tradisi perkawinan tersendiri, salah satunya adalah perkawinan dalam etnik Minangkabau. Minangkabau atau lebih dikenal dengan sebutan urang minang, memiliki aturan dan tradisi tersendiri dalam perkawinan yang akan dilangsungkan, setiap tahapan-tahapan tersebut memiliki makna dan fungsi masing-masing. Perkawinan merupakan salah satu masa peralihan yang sangat penting dalam Adat Minangkabau, karena perkawinan merupakan masa permulaan bagi seseorang melepaskan dirinya dari lingkungan keluarganya, dan mulai membentuk kelompok kecil miliknya sendiri, secara rohaniah kelompok yang baru dibentuk tidak bisa lepas dari pengaruh kelompok hidup sebelumnya. Dengan demikian perkawinan dapat juga disebut sebagai titik awal dari proses pemekaran sebuah kelompok masyarakat.
Suku bangsa Minangkabau dikenal sebagai suku bangsa di Indonesia yang menghitung garis keturunan ditarik menurut garis ibu (matrilineal). Kondisi ini menyebabkan seseorang yang lahir dalam satu keluarga akan masuk kelompok kerabat ibunya, bukan kelompok kerabat ayahnya. Sedangkan seorang ayah berada diluar kelompok kerabat istri dan anak-anaknya. Menurut adat, seorang perempuan tidak meninggalkan rumah keluarganya setelah menikah dan Sistem perkawinan orang Minangkabau bersifat eksogami suku, terlarang bagi orang minang untuk menikah dengan perempuan yang masih satu suku.
Perkawinan di Minangkabau dapat dibagi dalam berbagai kelompok dan jenis yaitu :
1. Perkawinan dalam etnis/nagari
Ini adalah bentuk perkawinan yang lebih dianjurkan di Minangkabau. Namun yang ideal lagi adalah perkawinan antar keluarga terdekat, seperti: menikahi anak mamak (pulang ka mamak) atau menikahi kamanakan bapak (pulang ka bako).
2. Perkawinan luar etnis
Menikah dengan orang non-Minangkabau. Perkawinan dengan perempuan dari luar suku Minangkabau tidak disukai karena bisa merusak struktur adat. Si anak tidak akan mempunyai suku. Sebaliknya, perkawinan dengan laki-laki luar suku Minangkabau tidak dipermasalahkan, karena tidak merusak struktur adat dan anak tetap mempunyai suku dari ibunya.
3. Perkawinan terlarang (perkawinan pantang)
• Perkawinan yang dilarang sesuai syariat Islam, seperti menikahi ibu, ayah, saudara, anak saudara seibu dan sebapak, dll.
• Perkawinan yang merusak sistem adat, yakni menikahi orang yang setali darah menurut garis ibu, orang sekaum, atau orang sesuku.
• Perkawinan yang dilarang untuk memelihara kerukunan sosial, seperti menikahi orang yang diceraikan kerabat, memadu perempuan yang sekerabat, menikahi anak tiri saudara kandung, atau menikahi orang yang dalam pertunangan

Orang yang tetap melakukan perkawinan terlarang ini akan diberi sanksi, misalnya membubarkan perkawinan itu, diusir dari kampung, atau hukum denda dengan meminta maaf pada semua pihak pada suatu perjamuan dengan memotong seekor atau dua ekor ternak. Perkawinan di Minangkabau memiliki tata cara tersendiri yang memiliki berbagai langkah dan tahap-tahap yang berbeda diantara satu nagari dengan nagari lainya, karena adat istiadat hanya berlaku selingka nagari. Namun secara garis besar adat istiadat perkawinan di Minangkabau dapat dibagi atas 7 tahap dan masing-masing tahapan sesungguhnya memiliki nilai-nilai filosofis tersendiri,

1. Manyilao “ma-nyalang2kan mato”
ketika sebuah keluarga memiliki anak gadis yang sudah cukup umur namun belum juga menikah, maka sanak saudaranya telah sibuk untuk mengamati siapa yang cocok untuk anak gadisnya, bila sudah diketemukan, “ba-rundiang2” lah sekeluarga untuk mendapatkan input terutama “keadaan” sang jejaka yang sedang diamati tsb, bila runding2 ini menyatakan “ok” maka diutuslah sorang atau baduo “pai ma-ninjau2″kerumah ortu jejaka, apakah bersedia menerima pinangan kita kelak.
Sehingga laki-laki/jejeka yang akan menikah dengan anak gadis telah diketahui terlebih dahulu oleh pihak keluarga prempuan, Perkawinan yang dilakukan telah memenuhi usur-unsur yang disyaratkan oleh adat yaitu Kedua calon mempelai harus beragama Islam. Kedua calon mempelai tidak sedarah atau tidak berasal dari suku yang sama. Kedua calon mempelai dapat saling menghormati dan menghargai orang tua dan keluarga kedua belah pihak.Calon suami (marapulai) harus sudah mempunyai sumber penghasilan untuk dapat menjamin kehidupan keluarganya.
2. Acara melamar (Bertukar Tando atau bertukar tanda).
Pihak prempuan memastikan bahwa pihak laki-laki yang dijadikan calon suami anaknya mau menerima mereka, maka berangkatlah pihak prempuan ke tempat laki-laki yang terdiri dari Mamak, Urang Sumando, Kaum ibu dan ipa bisan. Biasanya mereka membawa buah tangan berdasarkan adap istiadat yang berlakuk di daerah mereka. Pihak laki-laki menyambut mereka dengan alat kelengkapan yang sama, biasanya pada saat inilah berlangsungnya kesepakatan tentang perkawinan yang akan dilaksanakan.
Biasanya calon mempelai diikat dengan pertukaran tanda, berupa barang bersejarah. Misalnya, kaum mempelai wanita peninggalan nenek moyang mereka, ada pula beberapa daerah yang mengunakan perhiasan sebagai alat untuk tukar tando. Bagi salah satu pihak yang mengingkari janji akan terkena sangsi adat berupa membayar sekian ekor kerbau atau hal lain menurut ketentuan adapt yang berlaku didaerah mereka.
3. Acara Malam Bainai (Midodareni)
Secara harfiah bainai artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut daun inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita. Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan lekat semalam, akan meninggalkan bekas warna merah yang cemerlang pada kuku. Lazimnya dan seharusnya acara ini dilangsungkan malam hari sebelum besok paginya calon anak daro melangsungkan akad nikah. Apa sebab demikian ?
Kesempatan ini digunakan oleh semua keluarga dan tetangga untuk saling menunjukkan partisipasi dan kasih sayangnya kepada keluarga yang akan berhelat. Karena itu malam hari sebelum akad nikah dilangsungkan, semua keluarga dan tetangga terdekat akan berkumpul di rumah yang punya hajat. Selain dari tujuan bersilaturahim, menurut kepercayaan orang-orang tua dulu pekerjaan memerahkan kuku-kuku jari calon pengantin wanita ini juga mengandung arti magis. Menurut mereka ujung-ujung jari yang dimerahkan dengan daun inai dan dibalut daun sirih, mempunyai kekuatan yang bisa melindungi si calon pengantin dari hal-hal buruk yang mungkin didatangkan manusia yang dengki kepadanya. Maka selama kuku-kukunya masih merah yang berarti juga selama ia berada dalam kesibukan menghadapi berbagai macam perhelatan perkawinannya itu ia akan tetap terlindung dari segala mara bahaya. Setelah selesai melakukan pesta-pesta pun warna merah pada kuku-kukunya menjadi tanda kepada orang-orang lain bahwa ia sudah berumah tangga sehingga bebas dari gunjingan kalau ia pergi berdua dengan suaminya kemana saja.
Dibeberapa nagari di Sumatera Barat acara malam bainai ini sering juga diawali lebih dahulu dengan acara mandi-mandi yang dilaksanakan khusus oleh wanita-wanita disiang hari atau sore harinya. Maksudnya kira-kira sama dengan acara siraman dalam tradisi Jawa. Calon anak daro dibawa dalam arak-arakan menuju ke tepian atau ke pincuran tempat mandi umum yang tersedia dikampungnya. Kemudian perempuan-perempuan tua yang mengiringkan termasuk ibu dan neneknya, setelah membacakan doa, secara bergantian memandikan anak gadis yang besok akan dinobatkan jadi pegantin itu.
Jika kita simpulkan maka hakikat dari kedua acara ini untuk zaman kini mempunyai tujuan dan makna sbb:
1. Untuk mengungkapkan kasih sayang keluarga kepada sang dara yang akan meninggalkan masa remajanya,
2. Untuk memberikan doa restu kepada calon pengantin yang segera akan membina kehidupan baru berumahtangga.
3. Untuk menyucikan diri calon pengantin lahir dan batin sebelum ia melaksanakan acara yang sakral, yaitu akad nikah.
4. Untuk membuat anak gadis kelihatan lebih cantik, segar dan cemerlang selama ia berdandan sebagai anak daro dalam perhelatan-perhelatannya.
4. Sungkem orang tua
Sebelum melakukan Ijab Kabul, biasanya mempelai wanita dan mempelai pria, melakukan sungkem kepada kedua orang tua, biasanya pada saat ini kedua orang tua memberikan petunjuk-petunjuk dan nasehat yang berguna bagi kedua mempelai dalam menjalani kehidupan mereka dimasa depan. Tindakan ini merupakan perlambangan permintaan maaf, restu, sembah bakti kepada kedua orang tua. Kegiatan ini dilaksanakan bersama dengan malam bainai sehari menjalang acara Ijab Kabul.
5. Akad Nikah,
Akad nikah merupakan bagian terpenting dalam acara perkawinan mulai saat itu berubahlah status seorang anak menjadi seorang suami atau istri dan membentuk sebuah keluarga baru, kegiatan ini, dilaksanakan didalam mesjid yang diawali dengan pembacaan ayat suci, ijab kabul, nasehat perkawinan dan doa.
6. Pemasangan cincin kawin
Acara ini dilakasanakan setelah kedua mempelai melangsung Ijab Kabul dengan pemasangan cincin dari pihak laki-laki ke pihak prempauan yang melambangkan bahwa mereka telah saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing dan berusaha untuk saling melengkapi agar terwujudnya sebuah keluarga yang diinginkan.
7. Melewahkan Gala.
Laki-laki di Minangkabau ketika mereka ingin turun dari rumahnya untuk menuju kerumah istrinya. Maka ninik mamaknya akan memberikan gelar yang berasal dari mamaknya, pada sebahagian daerah ada juga gelar yang diambil dari gelar ayahnya dan digabungkan dengan gelar mamak.
Kegiatan pemberian gelar ini bertujuan untuk menghormati dan mengangkat harkat sang suami sehingga diberi gelar oleh mamaknya. Misal, Sutan Dirajo. Gelar menjadi nama panggilan ketika dia berada dalam lingkungan keluarga istri. Gelar suku tertentu berbeda dengan suku lain. Jadi suku Chaniago, Koto, Piliang memiliki gelar masing-masing.
8. Patrilokal
Seorang laki-laki di Minangkabau jika mereka telah menikah maka mereka tinggal dan bermukim dalam lingkungan istrinya karena sistem kekerabatan yang dihitung berdasarkan garis ibu maka peranan suami dalam keluarga istrinya menjadi berkurang. Sebuah aib dalam laki-laki minang jika membawa istri tinggal dalam lingkungan keluarganya.

Tahapan-tahapan perkawinan tersebut memiliki dampak positif bagi perkembangan dan pola hubungan sebuah keluarga di Minangkabau. Dengan Menyilau terlebih dahulu, maka pihak keluarga prempuan telah mengetahui siapa, dan bagaimana prilaku dari orang yang akan dijadikan pemimpin bagi anaknya dan hubungan yang terjalin merupakan keputusan dan kesepakatan dua keluaraga, setelah ada kesepakatan baru dilanjutkan dengan melamar. Malam Bainai juga merupakan gambaran tentang kerukunan dan keharmonisan sebuah keluarga kerena semua anggota keluarga dan kaum kerabat terlibat dalam kegiatan tersebut.
Sungkem kepada kedua orang yang dilaksanakan sehari menjalang pernikahan memberikan kesempatan kepada para orang tua dan kaum kerabat untuk memberikan nasehat dan pituah yang bermanfaat dalam menempuh kehidupan di masa depan. Pola patrilokal dimana suami tinggal dalam lingkungan keluaraga istri, membuat sang istri terlindung dari kekerasan suami, sehingga berita tentang kekerasan dalam keluarga di Minangkabau tidak pernah didengar.
Perkembangan zaman dan bergesarnya peradaban manusia membawa perubahan terhadap tahap-tahap perkawinan di Minangkabau, saat ini sulit untuk menemukan orang dalam melangsungkan perkawinan anak dan kemenakannya mesti melalui tahap-tahapan yang begitu panjang, saat ini umumnya perkawinan yang berlangsung di Minangkabau terdiri dari 3 tahapan yaitu :
1. Acara melamar (Bertukar Tando atau bertukar tanda).
Pihak orang tua, bukanlah orang yang paling sibuk dan menentukan bagaimana, dengan siapa dan kapan anaknya akan menikah, namun kebanyakan orang tua hanya menerima keputusan yang telah ditetapkan oleh anaknya, sehingga kekuasaan, control mereka terhadap kehidupan anak menjadi kurang sehingga bukan hal yang aneh jika saat ini ada orang minang yang kawin beda agama.
2. Akad Nikah,
Akad nikah saat ini umumnya berlangsung dirumah, hanya di beberapa nagari orang yang masih mempertahankan untuk menikah anak kemanakannya di dalam mesjid atau mushalla.
3. Melewahkan Gala.
Melawahkan gala masih banyak yang melaksanakanya hingga hari ini, namun gelar yang telah di lewakan tidak lagi begitu dihormati dan ditaati oleh kedua belah pihak baik sang suami maupun keluarga istri.

Tahap-tahapan perkawinan yang semakin sedikit dan berkurangnya peranan ninik mamak, kaum kerabat, dan orang tua dalam menentukan perkawinan anak dan kemanakannya, membawa dampak yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, seperti yang terlihat saat ini perkawinan yang dilaksanakan bukan berdasarkan keputusan bersama seluruh kaum kerabat. Maka tak jarang kita mendengar hubungan yang kurang baik antara anak dan mertua, mertua dan bisan dan tingginya tingkat perselisihan dalam sebuah keluarga hingga sampai ke pengadilan, tak jarang berakhir dengan perceraian. Semua hal tersebut disebabkan ketika sebuah keluarga menghadapi masalah mereka tidak memiliki tempat berbagi cerita sehingga yang keluar adalah keputusan mereka dan pola bermukim yang tidak lagi patrilokal juga membawa dampak terhadap munculnya sejumlah kasus kekerasan dalam keluarga di Minangkabau. Bagaimanakah dengan perkawinan Minangkaba di masa depan ?
Kembali sistem pemerintahan dari desa ke nagari diharapkan membawa perubahan dan memunculkan kembali kesadaran kepada kita semua bahwa sebaiknya kita kembali kepada tradisi yang pernah kita miliki. Untuk itu perlu dimunculkan kesadaran pada diri kita bahwa perkawinan yang dilaksanakan berdasarkan adat istiadat sesungguhnya bertujuan untuk melindungi kita dan berusaha untuk menciptakan perkawinan yang berkwalitas. Langkah kongrit dan sistematis perlu dikembangkan untuk menghindari semakin jauhnya generasi muda dari akar budaya yang kita miliki. Seperti kembali menghidupkan peran Surau, Ninik Mamak, dan kembali membangun rasa kekeluargaan dan semangat kebersamaan yang pernah kita miliki. Sehingga apa yang diungkapkan dalam patun, Saciok bak Ayam, Sadating bak Basi, Kebukit samo mandaki, kalurah sama manurun, barek samo dipiku ringan samo dijinjing bila semua bisa diwujudkan maka perkawinan di Minangkabau mungkin akan lebih baik dari saat ini, namun jika gagal maka tradisi perkawinan yang pernah kita miliki tinggal bahan cerita untuk menghibur hati yang lara.

DAFTAR PUSTAKA

1. Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan –Jakarta http://www.lbh-apik.or.id/uu-perk.htm diambil pada tanggal 20 mei 2008
2. ukm.unit.itb.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=12&Itemid=9 – 24k diambil pada tanggal 20 mei 2008
3. lhttp://www.tamanmini.com/budaya/suku_bangsa/suku_bangsa_minangkabau diambil pada tanggal 20 mei 2008
4. Adat Minangkabau, Pola & Tujuan Hidup Orang Minang http: //www. cimbuak.net/ content/view/570/7/ diambil pada tanggal 20 mei 2008
5. http://eskrim.multiply.com/reviews/item/28 diambil pada tanggal 20 mei 2008
6. Arman Bahar :Tata Cara Perkawinan Adat Minangkabau [RantauNet.Com] Maminang-Uang jamputan-Malam Bainai 21 Jun 2003

Posted in budaya | Leave a Comment »

Tayangan Reality Show di Televisi ; Ketika Citra Menjadi Realitas

Posted by efripdg pada Januari 14, 2009

Pengantar

Suatu ketika saat penulis bermukim di Yogyakarta, seorang teman dari Jakarta berkunjung untuk liburan beberapa hari memanfaatkan long weekend. Karena waktu yang tersedia tidak banyak, kami pun membuat jadwal perjalanan seketat mungkin. Hari itu adalah perjalanan ke Solo dengan naik kereta api dan kemudian sepanjang sore hingga malam, perjalanan akan dilanjutkan menyusuri ikon Yogyakarta, yakni Malioboro. Akan tetapi rencana yang sudah matang itu ternyata tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena pada saat dalam perjalanan kembali ke Yogya, tiba-tiba saja teman itu ingat bahwa saat itu malam minggu, saatnya konser AFI (Akademi Fantasi Indosiar). Ia tidak ingin melewatkan acara tersebut karena harus mengetahui siapa yang tereliminasi malam itu… Dengan demikian maka perjalanan menyusuri Malioboro pun dibatalkan.

Ilustrasi di atas hanyalah sebuah gambaran betapa televisi mampu mengatur hidup seseorang. Orang rela meninggalkan pekerjaan tertentu dan menggantinya dengan menonton televisi, atau melakukan penyesuaian-penyesuaian jadwal kegiatan dengan jadwal acara televisi. Amir Piliang (1997 : 202) bahkan mengatakan televisi merupakan sebuah kontrol sosial yang ampuh. Kehadirannya lebih efisien dari seorang intel pemerintah dalam mengawasi dan mengontrol kehidupan pribadi setiap orang. Televisi memiliki suatu “kekuasaan” untuk memastikan, bahwa orang-orang dapat diatur jadwal aktifitasnya (bila ingin menonton sepak bola dini hari, maka tidurlah siang hari).

Salah satu program acara televisi yang mampu menyedot perhatian masyarakat penikmat televisi adalah tayangan reality show. Disebut dengan istilah reality show, karena dianggap mampu menghadirkan realitas asli dari kehidupan manusia, sekaligus menghibur melalui realitas imitatif yang dipertontonkan (Teuku Kemal Fasya, Kompas 24 Oktober 2004). Selanjutnya menurut Kemal Fasya, secara umum reality show di Indonesia berkembang dalam dua model. Pertama, berkaitan dengan mengolah prestasi yang berupa kontes menyanyi atau keahlian lainnya. Kedua, tayangan yang mengeksploitasi sisi psikologis peserta atau targetnya dengan maksud menstimulasi rasa marah, takut, sedih, jengkel atau senang. Tayangan model ini antara lain seperti : Ngacir dan Uang Kaget (RCTI), Dunia Lain (Trans TV), Percaya nggak Percaya (ANTV) dan masih banyak lagi. Tulisan ini akan membahas reality show model pertama, yakni reality show yang berkaitan dengan mengolah prestasi berupa kontes menyanyi, dengan fokus perhatian pada AFI (Akademi Fantasi Indosiar) yang pernah booming beberapa waktu yang lalu dan Indonesian Idol.

Televisi ; sang Pencuri Perhatian

Dibandingkan dengan media massa yang lain, televisi merupakan media yang paling banyak mendapat perhatian setiap orang. Kepemilikan benda itu bisa diambil sebagai salah satu indikatornya. Hampir setiap keluarga memiliki pesawat televisi, bahkan ada rumahtangga yang memiliki lebih dari satu televisi untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga terhadap acara-acara yang berbeda pada saat yang bersamaan. Tidak demikian halnya dengan surat kabar, majalah ataupun radio yang hanya diakses oleh kalangan tertentu saja[1].

Televisi lebih diminati karena mempunyai beberapa kelebihan dibanding media yang lain. Kelebihan yang utama adalah kemampuannya menggabungkan fungsi audio dan visual sehingga dua indera (mata dan telinga) difungsikan sekaligus. Tidak seperti surat kabar/majalah ataupun radio, yang hanya memfungsikan satu indera saja. Selain itu televisi juga kaya warna dan dapat memperpendek jarak dan waktu. Namun keunggulannya yang paling penting adalah dalam hal menampilkan tayangan gambar yang bergerak (motion picture) sehingga khalayak pemirsa lebih terlibat secara emosional dibandingkan ketika mereka melihat gambar mati seperti terpampang di koran atau majalah (Idi Subandy Ibrahim, 1997).

Tentunya di samping kelebihan yang dimiliki, televisi juga memiliki kelemahan jika dibanding dengan media cetak. Karena media cetak bergerak dalam perhitungan ruang, sedangkan televisi lebih banyak bergerak dalam perhitungan waktu, maka untuk menikmati media cetak, pembaca mempunyai otoritas. Ia dengan mudah dapat memilih apa yang ingin dibacanya terlebih dahulu atau menunda untuk dibaca beberapa hari kemudian. Sebaliknya bagi penonton televisi, ia tidak memiliki otoritas terhadap acara-acara yang ingin ditonton. Ia harus menunggu penayangan acara yang menarik baginya atau terpaksa harus melihat acara yang tidak ia sukai (atau meninggalkan televisi dan kembali pada saat acara yang ia sukai). Artinya, dalam hal ini televisi yang memegang kendali dan manusia lah yang harus menyesuaikan jadwal dengan program-program yang ditayangkan.

Begitupun dalam hal berkaitan dengan editing, pada media cetak pembaca langsung menjadi editor. Ia bisa menentukan kolom mana yang akan dibaca dan mana yang diabaikan atau kolom yang lebih dahulu atau kemudian untuk dibaca. Akan halnya pemirsa televisi, ia hanya bisa pasrah menikmati gambar yang sudah diedit oleh editor televisi. Tentunya gambar-gambar yang tersaji adalah gambar yang menarik menurut ‘selera’ si editor. Persepsi yang salah dari pemirsa bisa saja timbul karena mereka tidak memperoleh gambaran dari realitas yang sebenarnya. Yang ditonton oleh pemirsa adalah ‘kejadian’ versi si editor, bukan kejadian di lapangan. Sebagai contoh, tayangan aparat kepolisian yang menyerang para pengunjuk rasa menimbulkan persepsi yang salah dari pemirsa karena gambar sebelumnya yang menggambarkan bagaimana perlakuan pengunjuk rasa terhadap aparat kepolisian telah diedit oleh si editor.

Kelemahan lain yang terdapat pada televisi adalah pemirsa tidak bisa mengulang berita atau tayangan yang diinginkannya. Jika sebuah berita atau program selesai ditayangkan, pemirsa tidak bisa menikmati kembali kecuali stasiun televisi itu sendiri yang menayang-ulang program itu atau pemirsa menggunakan teknologi lain dengan merekam program tersebut, misalnya. Hal ini tidak ditemui pada media cetak karena apa yang sudah dibaca bisa dibaca lagi suatu saat nanti.

Meskipun berbagai kelemahan dimiliki televisi, namun media yang sering disebut sebagai kotak ajaib ini tetap menjadi media favorit sebagai sumber informasi dan hiburan. Bahkan orang lebih mempercayai televisi dari pada media lain. Menurut James Lull (1998) mayoritas rakyat di negara-negara maju, mengatakan mereka lebih mempercayai televisi ketimbang sumber informasi lain. Bahkan sekarang, televisi mungkin sudah menjadi The First God (Tuhan Pertama) pada masyarakat industri (Jalaluddin Rakhmat, 1997).

AFI dan Indonesian Idol ; Sebuah Reality Show

Tidak dapat dipungkiri program acara televisi AFI[2] (Akademi Fantasi Indosiar) dan Indonesian Idol[3] telah menyita perhatian sebagian besar masyarakat Indonesia. Menurut Dalu (2005 : 64) ada 15 juta pemirsa fanatik AFI. Demi tayangan itu orang rela meninggalkan pekerjaan atau mengatur jadwal setepat mungkin untuk bisa menyaksikan tayangan tersebut. Terutama untuk menyaksikan agenda rutin setiap minggu yang disebut dengan Konser (pada AFI) atau Babak Spektakuler (pada Indonesian Idol) [4]. Begitu populernya tayangan ini, sehingga tidak heran jika kosa kata ‘eliminasi’, ‘akademia’, ‘idol’ dan sebagainya menjadi akrab di telinga masyarakat penonton televisi di Indonesia karena sering digunakan dalam pembicaraan sehari-hari. Orang-orang pun, merasa sangat mengenal Veri, Tia (pemenang AFI 1 dan 2), Joy dan Delon (pemenang Indonesian Idol pertama), lengkap sampai pada hal-hal kecil[5] melebihi pengetahuan mereka tentang tetangganya sendiri.

Apa sesungguhnya yang menarik dari tayangan itu ? Sebagai sebuah ajang untuk unjuk kebolehan di bidang tarik suara, tentunya tidak beda dengan festival-festival menyanyi yang lain. Dari dulu sudah sangat banyak diadakan lomba-lomba sejenis seperti Pop Singer, Bintang Radio-TV, Bahana Suara Pelajar dan Asia Bagus. Yang membedakan AFI dan Indonesian Idol dengan lomba menyanyi pada masa lalu hanyalah cara mengemas kegiatan yang dibuat lebih menarik, lebih glamour dan lebih modern (dalam hal teknologi). Program itu didukung oleh stasiun televisi yang terus menerus menyebarluaskan informasi setiap waktu bahkan ada tayangan khusus setiap hari tentang aktifitas mereka sehingga benar-benar menjadikan pemirsa merasa ‘dekat’ dengan acara itu. Selain itu kepada para peserta yang lolos seleksi (12 besar pada AFI dan 10 besar pada Indonesian Idol) diberikan pendidikan teknik bernyanyi dan hal-hal yang menunjang untuk membentuk mereka menjadi seorang bintang. Yang paling membedakan AFI dan Indonesian Idol dengan lomba-lomba menyanyi sebelumnya adalah keikutsertaan penonton sebagai ‘juri’ karena suara mereka (yang diberikan melalui SMS dan premium call) ikut menentukan nasib para peserta apakah akan terus melaju ke babak berikutnya atau harus mundur dari arena kompetisi.

AFI dan Indonesian Idol tidak hanya sekedar ajang kompetisi menyanyi tetapi juga sebuah tontonan. Oleh karenanya banyak pihak yang terlibat dalam program itu (dalam penyelenggaraan dan dalam menentukan keberhasilan program). Bagi masing-masing pihak, program itu dipandang dari sudut yang berbeda. Bagi para peserta (kompetitor), AFI dan Indonesian Idol merupakan wadah untuk berekspresi, untuk menunjukkan bakat dan kemampuan di bidang menyanyi. Tentu saja itu merupakan konsep ideal karena bagi sebagian kompetitor ajang ini mungkin dimaknai sebagai wadah untuk punya lebih banyak teman, jalan untuk menjadi terkenal dan ujung-ujungnya punya banyak uang (kaya).

Bagi para sponsor, AFI dan Indonesian Idol merupakan wadah untuk berpromosi. Para pelaku bisnis melihat peluang yang sangat besar dari program ini. Oleh karenanya ada yang berani menjadi sponsor utama yang memberi hadiah (mobil) bagi pemenang grand final. Promosi ini ada yang digelar secara ‘kasat mata’ dengan memotong tayangan pada saat siaran langsung konser (AFI) ataupun babak spektakuler (Indonesian Idol), namun ada pula yang disusupkan secara ‘halus’ pada tayangan harian (Diari AFI atau Indonesian Idol Extra). Pada tayangan harian itu parade produk dikemas sedemikian rupa sehingga kehadirannya terasa ‘natural’ dalam keseharian para kompetitor. Seperti dalam suatu tayangan Diari AFI yang sempat saya lihat, di situ digambarkan aktifitas para peserta mulai dari bangun tidur sampai kemudian tidur kembali. Seiring penggambaran aktifitas keseharian itu lah, parade produk para sponsor disusupkan. Jadi setelah bangun pagi, para akademia (sebutan untuk para kompetitor AFI) melakukan senam untuk menjaga kesegaran tubuhnya. Selesai senam mereka beristirahat sambil minum produk tertentu dan makan permen tertentu (dari sponsor). Kegiatan mereka kemudian dilanjutkan dengan aktifitas sehari-hari seperti mandi (dengan memakai sabun mandi dan shampo tertentu – tentu saja dari sponsor). Berikutnya mereka sarapan dengan mie instant (sponsor lagi). Di sela-sela latihan, untuk menjaga kesegaran tubuh mereka memakai cologne (dari sponsor). Begitupun kala istirahat di sore hari, mereka ngemil biskuit atau makanan ringan (kembali sponsor). Demikian tayangan realitas keseharian dari para akademia, bercampur baur antara yang “real”[6] dengan pesan-pesan terselubung dari sponsor.

Bagi service provider, ajang ini merupakan wadah untuk meraup keuntungan. Dengan melibatkan pemirsa sebagai penilai, para service provider tinggal menghitung keuntungan yang diperoleh dari banyaknya SMS dan premium call yang diberikan untuk mendukung kompetitor. Kalau pada tarif normal SMS hanya Rp. 350,- per sekali kirim maka untuk ajang ini tarif SMS adalah Rp. 2000,- per sekali kirim. Begitupun dengan premium call yang memberlakukan tarif Rp. 3500,- per menit.

Bagi pemirsa, ajang ini hanya untuk hiburan, untuk memperoleh kesenangan batin. Mereka merasa terhibur dan senang menyaksikan para kompetitor dengan suara bagus, pakaian indah dan gemerlapnya panggung. Adakalanya ia ikut terhanyut dalam kesedihan jika idolanya tereliminasi atau tidak bisa melanjutkan ke babak berikutnya. Begitupun, kelompok ini memperoleh kesenangan dan terpenuhi rasa keingintahuan-nya tentang seluk beluk para kompetitor atau kompetitor yang dipuja, dari tayangan Diari AFI atau Indonesian Idol Extra.

Bagi pihak penyelenggara, ajang ini merupakan wadah untuk melahirkan bintang-bintang baru hanya dalam hitungan bulan, yang dalam istilah Dalu (2005) disebutnya Bintang Kaget ! Veri, sebelum memenangkan AFI 1 bukanlah siapa-siapa. Namun dalam jangka waktu kurang lebih tiga bulan, ia kemudian menjelma menjadi sosok yang dipuja dan dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal inilah yang disebut Amir Piliang (2004 : 61) sebagai perangkap gaya hidup yang serba cepat dan instant. Hidup terperangkap dalam keseketikaan (instantaneous) atau temporalitas (temporality) segala sesuatu, yang hadir seketika dalam waktu singkat untuk kemudian lenyap secara cepat dan diganti oleh yang lainnya, tanpa akhir. Perubahan dan pergolakan terjadi terus menerus yang ditandai oleh jeda yang singkat. Oleh karenanya Veri hanya sesaat menikmati popularitas itu karena dalam waktu singkat perhatian masyarakat (yang memuja Veri) kemudian beralih pula kepada Tia, sang juara AFI 2.

Terlepas dari berbagai pihak yang terlibat (atau melibatkan diri – seperti pemirsa) pada kedua program itu, pada kenyataannya AFI dan Indonesian Idol sebagai tontonan kemudian memiliki dunianya sendiri. Peserta yang lolos seleksi dan masuk ‘karantina’ harus melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan ‘iklim’ di sana. Baik itu tata cara bergaul, bersikap, dan berprilaku serta berpakaian. Bagi mereka yang belum terbiasa dengan ‘bahasa tubuh’ pergaulan metropolitan seperti ‘sun’ pipi kiri dan kanan sebagai ungkapan persahabatan atau berpelukan sebagai ungkapan perpisahan (hal ini sangat diekspos pada saat seorang akademia tereliminasi) tentu merasa agak kagok. Tetapi lama kelamaan dengan proses ‘pembelajaran’ di karantina, maka mereka pun menjadi terbiasa dan tidak merasa canggung lagi. Begitu juga dengan mereka yang semula merasa risih jika harus mengenakan pakaian yang ‘serba terbuka’ tetapi kemudian merasa enjoy dengan pakaian seperti itu karena orang-orang di luar dirinya terutama sang perancang bisa meyakinkan dirinya bahwa ia pantas dengan pakaian tersebut. Itulah reality show, realitas sebuah tontonan.

Ketika Citra Menjadi Realitas

Dari lima elemen yang menunjang terlaksana dan berhasilnya program AFI dan Indonesian Idol, pemirsa merupakan kelompok yang paling ‘malang’ walaupun sesungguhnya peran mereka cukup penting. Tanpa adanya pemirsa yang dengan setia menyaksikan, tentu program tersebut tidak bisa dikatakan berhasil. Berbeda dengan kelompok yang malang ini, elemen-elemen lain memperoleh keuntungan (finansial) dari partisipasinya dalam program itu. Sebagai gambaran, para kompetitor memperoleh ketenaran, pengetahuan dan keuntungan finansial terutama bagi yang berhasil menjuarai grand final atau sampai babak tiga besar. Begitu pun halnya dengan para sponsor yang jelas memperoleh keuntungan dari program ini. Apalagi bagi service provider, keuntungan yang diraup lebih besar lagi. Bagi penyelenggara, disamping keuntungan finansial yang diperoleh dari para pemasang iklan, juga keuntungan bisa melahirkan bintang–bintang baru yang pada gilirannya bisa ‘dijual’ lagi karena adanya keterikatan kontrak antara para kompetitor dengan penyelenggara untuk jangka waktu yang sudah disepakati.

Sementara pemirsa, keuntungan apa yang ia peroleh ? Tidak lain hanyalah kesenangan sesaat, namun dengan kerugian yang jauh lebih besar atas pengeluaran untuk mengirim SMS atau premium call, membeli tabloid, poster dan pernak pernik AFI atau Indonesian Idol. Memang ada di antara pemirsa yang beruntung memperoleh hadiah dari kuis SMS, tetapi itu hanya sangat sedikit dari jumlah yang mengirim. Kalau pada kenyataannya keterlibatan pemirsa hanya mendatangkan kesenangan yang sedikit namun menimbulkan kerugian yang besar, lalu mengapa pemirsa yang mengikuti acara itu tetap banyak ? Hal ini saya coba menjelaskannya dengan mengacu pada konsep meme.

Meme, menurut Richard Dawkins adalah semacam pesan kultural (cultural instruction) yang berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat contoh-contoh dan imitasi, yang berbeda dengan keberlanjutan gen pada manusia lewat pertemuan sperma dan ovum (Amir Piliang, 2004 : 73). Meme pada awalnya dibentuk oleh pikiran manusia, tetapi kemudian ia segera berbalik dan mulai membentuk pikiran itu sendiri. Analogi yang digunakan Amir Piliang dengan listrik, tepat sekali untuk menggambarkan hal ini. Pada mulanya manusia menemukan listrik untuk memudahkan kehidupannya, tetapi kemudian listrik mulai membentuk pikiran manusia hingga segala sesuatu mau dilistrikkan, sehingga mendorong ratusan peralatan listrik baru, yang sebelumnya tidak ada dalam pikiran orang seperti pencukur listrik, pembersih kaca listrik, kursi listrik, pagar listrik (Amir Piliang, 2004 : 74). Bagaimana meme berkembang dan kemudian “menjajah” pikiran manusia, kiranya tepat sekali perumpamaan yang dipakai Amir Piliang (2004 : 75) dengan gaya hidup bermobil. Ketika pertama kali seseorang membeli mobil, maka ia memperoleh manfaat dan kesenangan dalam menggunakan mobil itu untuk bepergian, belanja, pesiar dan sebagainya. Namun sekali pikiran orang itu sudah dihantui oleh oleh gaya hidup bermobil maka meme segera mengendalikan pikiran orang itu. Pikirannya dipenuhi oleh kebutuhan untuk selalu mengganti mobil dengan gaya-gaya baru, model baru, keluaran baru. Singkat kata, meme gaya hidup bermobil ini akan meyita banyak sekali energi, waktu, pikiran dan uang orang yang dipengaruhinya, karena ia pun mulai memikirkan bagaimana jika mobilnya tergores, dibongkar, dicuri, disenggol serta keharusan membayar pajak, bensin dan asuransi. Jadi, ketimbang mengendalikan mobil sebagai meme (ide), orang itu justru dikendalikan oleh pembiakan ide dan gaya yang datang dan pergi silih berganti oleh gaya hidup bermobil.

Jika penggambaran Amir Piliang tentang gaya hidup bermobil itu dibawa ke AFI dan Indonesian Idol, maka hal itu tidak jauh beda. Pertama kali orang menyaksikan tayangan tersebut, hasratnya untuk menikmati program yang menarik dan menghibur menjadi terpenuhi. Tetapi ketika orang itu sudah menjadikan AFI dan Indonesian Idol sebagai gaya hidup, maka meme telah mengendalikan pikiran mereka dan kemudian juga menimbulkan ketergantungan sehingga selalu penasaran untuk mengetahui pada minggu ini siapa yang tereliminasi (AFI) atau siapa yang tidak maju ke babak berikutnya (Indonesian Idol). Tidak sampai di situ saja, informasi yang lebih dan lebih lagi tentang AFI dan Indonesian Idol khususnya kompetitor yang disenangi, terus diburu antara lain dengan membeli tabloid yang mengulas tentang latar belakang kehidupan keluarga Veri misalnya, atau aktifitas dan teman dekat Joy, misalnya. Pendek kata, semua informasi tentang sang idola terus diburu tanpa pernah merasa cukup karena selalu berharap ada informasi baru.

Adanya rasa ketergantungan yang tinggi terhadap tayangan itu disebabkan karena citra yang dibentuk oleh media kini telah menjadi realitas. Dalam kondisi begini meme telah menjadi parasit dalam pikiran seseorang. Ini disebabkan karena dalam upayanya untuk berkembang biak dan bertahan hidup, meme menggunakan pikiran manusia sebagai tempat hidupnya. Dalam bahasa T. Simbolon (1998), meme berkembang untuk mewujudkan tri-suksesnya sendiri, tanpa menghiraukan kepentingan manusia yang benaknya dimanfaatkan. Tiga sukses dari meme menyangkut hal-hal : 1) usia yang sepanjang-panjang, 2) tersebar seluas-luasnya dan berketurunan seasli-aslinya (T. Simbolon, 1998 : xvi).

Penutup

Manusia memerlukan benda-benda materi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu maka diproduksilah benda-benda yang dibutuhkan tersebut. Ketika benda-benda diproduksi dalam jumlah besar, yang terjadi kemudian adalah surplus. Untuk mengatasi hal tersebut, supaya benda-benda yang surplus itu habis, maka diciptakanlah atau ditumbuhkan keyakinan dalam diri manusia bahwa mereka membutuhkan benda-benda itu. Yang beperan dalam menumbuhkan keyakinan ini adalah media massa. Melalui propaganda dan citra yang diciptakannya, manusia yang semula tidak merasa membutuhkan suatu benda materi tertentu kemudian merasa harus memiliki benda materi tersebut. Hal yang sama terjadi pada informasi. Semula informasi dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun kemudian yang terjadi, informasi dibuat melampaui kebutuhan manusia, bahkan informasi kini menaklukkan manusia yang menciptakannya.

Acara-acara di televisi juga tidak lagi dibuat berdasarkan kebutuhan manusia. Televisi telah memiliki dunianya sendiri. Televisi akan terus berproduksi dari satu acara ke acara lain, dari satu berita ke berita lain, dari satu sinetron ke sinetron lain dan dari satu kompetisi ke kompetisi lain. Oleh karenanya kita harus bisa mengatur televisi, dalam arti kita menjadi pemirsa yang aktif, yang bisa menentukan informasi atau program apa yang benar-benar dibutuhkan. Ini perlu menjadi perhatian karena jika tidak demikian maka televisi lah yang akan mengatur kita.

BAHAN RUJUKAN

Amir Piliang, Yasraf.

1997 “Realitas-realitas Semu Masyarakat Konsumer : Estetika Hiperealitas dan Politik Konsumerisme” dalam Ecstasy Gaya Hidup, Idi Subandy Ibrahim (ed). Bandung : Mizan.

————————

2004 Dunia yang Dilipat : Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Yogyakarta: Jalasutra

Armada, Wina.

1993 Menggugat Kebebasan Pers. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Budiman, Hikmat.

2002 Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius.

Cangara, Hafied.

1998 PengatarIlmu Komunikasi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Ibrahim, Idi Subandy.

1997 “ Krisis Kultural di ‘Abad Televisi’ ” dalam Hegemoni Budaya, Idi Subandy Ibrahim (ed). Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya.

Lull, James.

1998 Media, Komunikasi, Kebudayaan : Suatu Pendekatan Global (terjemahan A. Setiawan Abadi). Jakarta : Yayasan Obor

Rakhmat, Jalaluddin.

1997 “ TV Sudah Menjadi ‘The First God’ ” dalam Hegemoni Budaya, Idi Subandy Ibrahim (ed). Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya.

Dalu, Lintang Sinunggal.

2005 Bintang Kaget! : Ajang Ngetop dalam Besutan Kapitalisme Reality Show Televisi. Yogyakarta : Diva Press.

T. Simbolon, Parakitri.

1998 Pengantar buku Media, Komunikasi, Kebudayaan : Suatu Pendekatan Global (terjemahan A. Setiawan Abadi). Jakarta : Yayasan Obor


[1] Menurut perkiraan (data tahun 2004), di negeri ini ada lebih dari 30 juta pesawat televisi, yang rata-rata untuk setiap pesawat televisi ditonton oleh lima orang. Berarti ada sekitar 150 juta penduduk Indonesia, atau sekitar 70 persen dari total penduduk, yang menonton (dan mendapat informasi) dari televisi. Sedangkan, mereka yang memperoleh informasi dari media cetak, diduga hanya sekitar 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

[2] Ditayangkan stasiun televisi Indosiar pada rentang waktu 2003 sampai 2005

[3] Disiarkan RCTI sejak 2004 hingga sekarang (2007)

[4] Konser AFI diikuti oleh 12 orang peserta, sedangkan Babak Spektakuler diikuti 10 orang. Mereka adalah hasil seleksi dari seluruh Indonesia. Baik Konser maupun Babak Spektakuler menggunakan sistem gugur sehingga setiap minggu ada satu peserta yang tidak bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.

[5] Seperti tanggal dan tahun kelahiran, tingkat pendidikan, hobby, pekerjaan orangtua bahkan sudah punya pacar atau belum.

[6] Konsep “real” dalam hal ini mungkin perlu definisi lagi karena ketika seseorang mengetahui gerak-geriknya di shoot kamera, masihkah itu merupakan realitas yang sesungguhnya ?

Posted in budaya | Leave a Comment »

Halo dunia!

Posted by efripdg pada Februari 1, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Tak Berkategori | 1 Comment »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.